Wednesday, January 2, 2008

RENUNGAN MALAM

Semua serasa senyap.
gelap dan sunyi.
sekeras apapun dirimu berteriak.
tak ada suara yang terdengar.
perasaan takut mulai meyelimutimu.

Sesaat terlihat sekelebat cahaya di arah sana.
sadar dengan kehadiran cahaya tersebut,
kau mulai berjalan dan mendekati arah cahaya tersebut.

terus.... dan terus...
tiba-tiba cahaya itu menyelimutimu dan semua jadi terang benderang.
semua panca inderamu bereaksi kembali.
saat tersadar ...
kau berada pada suatu tempat yang tidak asing bagimu.
tempat yang memiliki aroma dan kesan yang berarti di hatimu.

tertegun dan tersadar,
kau mulai berlari...
berlari dan terus berlari...
hingga akhirnya dengan nafas terengah-engah,
kau berhenti di depan sebuah rumah.
rumah yang sangat kau kenali walau samar-samar dalam pikiranmu.

rumah itu ...

rumah tempat kamu di besarkan.
rumah dimana kamu tinggal dulu.
rumah dimana kau dimanja dan disayang oleh kedua orang tuamu.

kau mulai berjalan menghampiri rumah itu.
kau memasuki halaman rumah tersebut.
kau melihat seorang anak kecil bermain, tertawa dengan gembira di halaman itu.
anak itu terjatuh, dan menangis.
kau segera menghampiri anak itu,
kau menggendongnya tetapi anak itu terus menangis..

tiba-tiba sepasang tangan membelai anak itu,
kau melihat seorang wanita yang sangat sederhana tersenyum dan memintamu untuk memberikan anak tersebut.
saat anak itu berada dalam gendongannya, anak itu tersenyum dan tangisannya terhenti.

saat tersadar, wanita dan anak tersebut telah menghilang.
samar-samar kau seakan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
kau tersentak dan segera masuk kedalam rumah.
rumah tersebut masih dalam keadaan terawat,
walau tampak lusuh, suasana hangatnya seakan menentramkan
hatimu yang sedang gundah.

kau berjalan .... berkeliling .....
sekali lagi kau melihat anak td sudah lebih dewasa,
dengan mengenakan seragam sd anak itu bersalaman dengan kedua orang tuanya. sang wanita tadi dan suaminya.
sang ibu melepas kepergian anaknya yang diantar suaminya dengan sepeda motor. sambil meneteskan air mata dan senyuman sang ibu berdoa untuk keselamatan anak itu.
karena hari itu ....

hari pertama anak itu pergi ke sekolah pertama kalinya.

sekali lagi semua jadi samar-samar dan menghilang.

di rumah itu ...
kamu melihat berkali kali kejadian-kejadian
yang terjadi.
layaknya slide show yang memutar kembali waktu yang telah berjalan.

anak itu pun dewasa.
dan pergi merantau keluar kota untuk melanjutkan sekolah.
setelah berlalu.
kau melihat berkali-kali sang ibu berdoa tiap hari demi kebahagiaan dan keselamatan anaknya di luar kota.
kau melihat berkali-kali sang ayah pulang membawa gaji untuk kemudian diambil 20% nya dan menyisihkan sisanya untuk keperluan anaknya di sana.

gaji yang tidak seberapa banyak itu di pakai buat menghidupi diri dan istrinya.
tanpa mengeluh.

begitu tersadar kau teringat atas apa yang "anak" itu lakukan disana.
anak itu berfoya foya.
anak itu bermain-main hingga lupa akan kepentingan sekolahnya.
anak itu terlalu sibuk dengan kekasihnya hingga lupa menguhubungi keluarganya.
anak itu selalu bersantai hingga lupa berdoa untuk orangtuanya.

anak itu adalah "kamu"

saat ini anak itu sedang melihat kenyataan yang terjadi.
kau berlari mencari sosok hangat yang samar-samar kau lupakan.
kau terus mencari hingga akhirnya kau sampai di halaman belakang.
kau melihat sosok seorang pria tua yang lusuh,
berdiri di bawah pohon.

kau dekati dan kau panggil pria tua itu dengan sebutan "ayah"
pria tua itu melihatmu dan kemudian tersenyum sambil meneteskan air mata.
menyalamimu, kemudian memelukmu.

saat kau ingin berkata, beliau mulai berbicara dengan nada yang parau dan lirih

"akhirnya kamu pulang, Nak. ayah sudah lama merindukanmu."

kau pun mulai meneteskan air mata dan kemudian bertanya tentang keadaan ibu

"Ibumu sedang istirahat, kamu gak usah khawatir. ibu bangga denganmu,
berkali kali dia mengatakan pada tetangga bahwa
kamu sekolah di luarkota, dan sebentar lagi akan menjadi sarjana"

Saat ingin menyela dan mengatakan kenyataan, beliau kembali memotong

"Kamu gak usah khawatir, ayah sudah persiapkan tabungan buat sekolahmu,
belajar yang rajin nak, doakan kedua orangtuamu, berusahalah agar kami bisa
tersenyum saat meninggalkanmu nanti, saat kami sudah tidak mampu lagi membiayai hidupmu, kamu sudah mampu berdiri sendiri, kamu sudah dapat berjalan dengan kedua kakimu sendiri"

sembari menggengam tanganmu, tetesan airmata jatuh membasahi pipinya.
kau tertegun dan tak sanggup berkata apa-apa.

"Sudah waktunya, ayah harus pergi, ayah harus kerja buat hidupmu"
beliaupun berlalu dan kemudian menghilang.

kau masih tertegun, dan kembali masuk kerumah.
dengan gontai kau duduk di sebuah kursi dan mengambil
sebuah album foto dari rak.

kau tersentak dan menjatuhkan album foto tersebut.
album foto yang berisikan...

pemakaman ibumu..
wanita yang mengandungmu,
wanita yang membesarkanmu,
wanita yang selalu mendoakanmu,
wanita yang selalu membacakan dongeng utkmu sebelum tidur,
wanita yang dengan sabar menjagamu tidur.

setetes demi setetes air matamu mengalir membasahi pipimu.
kau terjatuh dari kursi tersebut.
kau menjerit sekeras-kerasnya.
kau menangis sejadi-jadinya.

kau sadar siapa kamu.
kau sadar bagaimana sikapmu.
kau sadar apa yang sudah kamu lakukan.
kau sadar seberapa "BANGSAT" nya kamu sebagai anak
kau sadar seberapa "BODOH" dirimu sebagai manusia.

kau berlari ...
berlari sekencang-kencangnya ....
dan berharap kau dapat mengejar sosok sang ayah.
kau berlari .....
sambil terus mengucapkan kata maaf..
maaf...

maaf Bu, aku belum bisa membalas jasamu.
sampai hembusan nafas terakhirmu,
aku belum bisa menunjukan apa-apa kepadamu.

maaf yach, aku belum bisa jadi anak berbakti.
aku menghambur-hamburkan uang hasil keringatmu,
aku belum mampu berjalan sendiri.

MAAF, AKU BELUM BISA JADI SEORANG ANAK SESUAI
KEINGINAN KALIAN, AKU BELUM BISA JADI ANAK YANG
DAPAT KALIAN BANGGAKAN, AKU MASIH JAUH DARI YANG
KALIAN HARAPKAN.

kau terjatuh ....
dan semua kembali menjadi gelap.
sunyi...
yang terdengar hanya isak tangismu.
kau kembali sendiri.

sendiri..

sendiri .....

sendiri ..........

saat kau terbangun.
matahari telah bersinar terang.

dan sekali lagi ...

kau harus berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi
dirimu, dan orang tua yang membesarkanmu.




1 comment:

Anca homo said...

i'm looking forward to read your inpersonal reflection..